JAMALUDDIN AL AFGHANI PDF

Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan. Al-Bukhari no.

Author:Meziktilar Gurg
Country:Madagascar
Language:English (Spanish)
Genre:Spiritual
Published (Last):26 March 2019
Pages:419
PDF File Size:10.64 Mb
ePub File Size:19.95 Mb
ISBN:157-1-21516-988-3
Downloads:60882
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kizuru



Ayahnya mendatangkan seorang guru ilmu tafsir, ilmu hadis dan ilmu fiqhi yang dilengkapi pula dengan ilmu taswuf dan ilmu ketuhanan, kemudian dikirim ke India untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern Eropa.

Jamaluddin al-Afghani ketika berusia 8 tahun ia dengan keluarganya hijrah ke Qazwin dan kemudian ke Teheran. Di situlah ia menghabiskan waktunya selama 40 tahun sebagai murid murtadha al-Anshari. Di Kabul ia mempelajari segala cabang ilmu keislaman, disamping filsafat dan ilmu eksakta.

Setelah berusia 18 tahun ia ke India berdiam selama satu tahun. Pengabdiannya yang pertama di Afghanistan, ketika berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Di tahun M ia menjadi penasehat Sher Ali Khan. Dalam banyak dokumentasi dia terlihat sebagai figure politik yang sangat anti terhadap inggris.

Ketika al-Afghani ke Istambul dia mengemukan gagasan yang berasal dari filosof Islam, dan ketika ke Mesir pada tahun dia mengajarkan murid-muridnya terutama tentang filosof-filosof Iran.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa yang diajarkannya bukan saja rasionalisme. Dia juga mengajarkan filosof itu untuk membedakan antara apa yang perlu diajarkan kepada elit intelektual, yaitu kebenaran rasional dan apa yang perlu disampaikan kepada massa, yaitu pemahaman dan emosi mereka.

Di tahun ia pindah ke Turki dan diangkat oleh Perdana Menteri Ali Pasya menjadi menjadi anggota Majelis Pendidikan Turki, kemudian pindah lagike Iran dan di sana ia diangkat menjadi Menteri Penerangan, dan selanjutnya pindah ke Mesir , al-Afghani kembali kle Mesir sampaintahun Melalui partai ini, ia menyusun sebuah gerakan revolusi Arab.

Selain itu, ia juga mengadakan pertemuan harian dengan murid-muridnya. Melalui pertemuan ini ia m,enyebarkan tulisan-tulisan dengan nama samaran atau kadang atas nama murid-muridnya. Konsep Pemikiran Jamaluddin al-Afghani Al-Afghani berpendapat bahwa kemunduran umat Islam disebabkan antara lain karena umat telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran qada dan qadar telah berubah menjadi ajaran fatalisme yang enjadikan umat menjadi statis.

Sebab-sebab lain lagi adalah perpecahan di kalangan umat Islam sendiri, lemahnya persaudaraan antara umat Islam dan lain-lain. Selanjutnya bagaimana ide-ide pembaharuan dan pemikiran politik Al-Afghani tentangnegara dan sistem pemerintahan akan diuraikan berikut ini : 1.

Bentuk negara dan pemerintahan Menurut Al-Afghani, Islam menhendaki bahwa bentuk pemerintahan adalah republik. Sebab, di dalamnya terdapat kebebasan berpendapat dan kepala negara harus tunduk kepada Undang-Undang Dasar.

Pendapat seperti ini baru dalam sejarah politik Islam yang selama ini pemikirnya hanya mengenal bentuk khalifah yang mempunyai kekuasaan absulot. Penafsiran atau pendapat ersebut lebih maju dari Abduh yaitu Islam tidak menetapkan suatu bentuk pemerintahan , maka bentuk demikianpun harus mengikuti masyarakat dalam kehidupan materi dan kebebasan berpikir. Ini mengandung makna, bahwa apapun bentuk pemerintahan, Abduh menghendaki suatu pemerintahan yang dinamis. Karena itu Al-Afghani menghendaki agar corak pemerintahan absulot diganti dengan dengan corak pemerintahan demokrasi.

Pemerintahan demokratis merupakan salah satu identitas yang paling khas dari dari pemerintahan yang berbentuk republik. Demokrasi adalah pasangan pemerintahan republik sebagaimana berkembang di barat dan diterapkan oleh Mustafa Kemal Attaturk di Turki sebagai ganti pemerintahan khalifah. Selanjutnya ia berpendapat pemerintahan otokrasi yang cenderung meniadakan hak-hak individu tidak sesuai dengan ajaran Islamyang sangat menghargai hak-hak individu. Maka pemerintahan otokrasi harus diganti dengan pemerintahan yang bercorak demokrasi yang menjunjung tinggi hak-hak individu.

Menurut Al-Afghani, pemerintahan yang demokrasi menghendaki adanya majelis perwakilan rakyat. Lembaga ini bertugas memberikan usul dan pendapat kepada pemerintah dalam menentukan suatu kebijakan negara. Urgensi lembaga ini untuk menghindari agar tidak muncul pemerintahan yang absulot. Ide atau usul para wakil rakyat yan berpengalaman merupakan sumbangan yang berharga bagi pemerintah. Karena itu para wakil rakyat harus yang berpengetahuan dan berwawasan luas serta bermoral baik.

Wakil-wakil rakyat yang demikian membawa dampak positif terhadap pemerintah sehingga akan melahirkan undang-undang dan peraturan atau keputusan yang baik bagi rakyat. Selanjutnya, para pemegang kekuasaan haruslah orang-orang yang paling taat kepada undang-undang. Kekuasaan yang diperoleh tidak lantaran kehebatan suku, ras, kekuatan material dan kekayaan. Baginya kekuasaan itu harus diperoleh melalui pemilihan dan disepakati oleh rakyat.

Dengan demikian orang yang terpilih memiliki dasar hukum untuk melaksanakan kekuasaan itu. Gagasannya ini terkenal dengan Pan Islamisme. Ide besar ini menghendaki terjalinnya kerjasama antara negara-negara Islam dalam masalah keagamaan, kerjasama antara kepala negara Islam.

Kerjasama itu menuntut adanya rasa tanggungjawab bersama dari tiap negara terhadap umat Islam dimana saja mereka berada, dan menumbuhkan keinginan hidup bersama dalam suatu komunitas serta mewujudkan kesejahteraan umat Islam.

Kesatuan benar-benar menjadi tema pokok pada tulisan Al-Afghani. Ia menginginkan agar umat Islam harus mengatasi perbedaan doktrin dan kebiasaan permusuhan. Perbedaan sekte tidak perlu menjadi hambatan dalam politik, dan kaum muslimin harus mengambil pelajaran dari contoh Jerman, yang kehilangan kesatuan nasionalnya karena terlalu memandang penting perbedaan agama.

Al-Afghani menekankan solidaritas sesama muslim karena ikatan agama, bukan ikatan teknik atau rasial. Seorang penguasa muslim entah dari bangsa mana datangnya, walau pada mulanya kecil, akan berkembang dan diterima oleh suku dan bangsa lain seagama selagi ia masih menegakkan hukum agama. Penguasa itu hendaknya dipilih dari orang-orang yang paling taat dalam agamanya, bukan karena pewarisan, kehebatan sukunya atau kekayaan materialnya, dan disepakati oleh anggota masyarakatnya.

Inilah ide pemikir orisinil yang merupakan solidaritas umat yang dikenal dengan Pan-Islamisme atau Al-Jamiah al Islamiyah Persaudaraan sesama umat Islam sedunia. Namun usaha Al-Afghani tentang Pan-Islamismenya ini tidak berhasil. Artikel Terkait:.

DIGITAL COMMUNICATION CHITODE PDF

Pemikiran Pembaharuan Jamaluddin al-Afghani

Ayahnya mendatangkan seorang guru ilmu tafsir, ilmu hadis dan ilmu fiqhi yang dilengkapi pula dengan ilmu taswuf dan ilmu ketuhanan, kemudian dikirim ke India untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern Eropa. Jamaluddin al-Afghani ketika berusia 8 tahun ia dengan keluarganya hijrah ke Qazwin dan kemudian ke Teheran. Di situlah ia menghabiskan waktunya selama 40 tahun sebagai murid murtadha al-Anshari. Di Kabul ia mempelajari segala cabang ilmu keislaman, disamping filsafat dan ilmu eksakta. Setelah berusia 18 tahun ia ke India berdiam selama satu tahun. Pengabdiannya yang pertama di Afghanistan, ketika berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Di tahun M ia menjadi penasehat Sher Ali Khan.

JULIANA SPAHR RESPONSE PDF

Biografi Jamaludin Al-Afghani

His true national and sectarian background have been a subject of controversy. Keddie and accepted by a number of modern scholars, holds that he was born and raised in a Shia family in Asadabad , near Hamadan , in Iran. In , a British spy reported that Al-Afghani was a possible Russian agent. In the spring of he left Iran for Afghanistan, passing through Mashad and Herat. The most probable supposition seems to be that he may have spent longer in India than he later said, and that after going to Mecca he travelled elsewhere in the Ottoman Empire.

Related Articles