API DI BUKIT MENOREH SERI 2 PDF

Sikap Sekar Mirah dirasakannya sangat aneh. Gadis itu sama sekali tidak terkejut, apalagi menjadi ketakutan. Kalau gadis ini memang bukan sanak-kadangmu, kenapa ia berada di sini? Kawannya tiba-tiba saja tertawa, meskipun tidak bersuara.

Author:Moramar Molrajas
Country:Azerbaijan
Language:English (Spanish)
Genre:Literature
Published (Last):7 January 2004
Pages:327
PDF File Size:15.99 Mb
ePub File Size:3.26 Mb
ISBN:593-9-25019-889-6
Downloads:92125
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Nelabar



Sikap Sekar Mirah dirasakannya sangat aneh. Gadis itu sama sekali tidak terkejut, apalagi menjadi ketakutan. Kalau gadis ini memang bukan sanak-kadangmu, kenapa ia berada di sini? Kawannya tiba-tiba saja tertawa, meskipun tidak bersuara.

Kawannya masih tertawa. Aku kira lebih baik kau menemuinya sendiri. Kau dapat berbicara dengan leluasa. Aku dapat mencegahnya kalau ia berteriak dan mengejutkan para penjaga. Katakan maksudmu. Tetapi sebaiknya kau berbuat seperti seorang anak terhadap orang tuamu.

Berbicara dengan baik dan sopan. Aku yakin, bahwa ayahmu akan mengerti, bahwa perjuangan kita masih panjang. Tetapi pertimbangan keamanan dirimulah yang membawa aku kemari. Tetapi agaknya tidak ada seorang pengawal pun yang ada di dalam rumah ini. Kalau kau tetap tinggal di rumah ini, sedang di halaman rumah ini berkerumun serigala-serigala lapar, maka nasibmu tidak akan berketentuan. Aku akan menyelamatkan gadis ini.

Kau masih terlampau muda untuk memikirkan seorang gadis cantik ini. Dipandanginya wajah kawannya yang aneh, kemudian ditatapnya Sekar Mirah yang masih tersenyum-senyum saja. Biarlah aku yang mengurusnya. Sekarang kau temui ibu dan kemudian ayahmu. Ia tidak dapat mengerti, kenapa sikapnya begitu ramah menerima kedatangan orang yang belum dikenalnya, di tempat yang asing baginya.

Prastawa menganggukkan kepalanya. Aku akan menemui Ibu dan Ayah. Tetapi kalau aku tidak dapat berbicara dengan mulutku, maka aku akan berbicara dengan senjataku. Perhatiannya seluruhnya telah ditumpahkannya kepada Sekar Mirah yang masih duduk di tempatnya. Ternyata ruang dalam rumah itu pun sudah sepi. Cahaya lampu minyak yang remang-remang sama sekali tidak menyentuh seorang pun yang masih terbangun.

Putera Ki Argajaya itu berpaling. Tetapi ia tidak berkata apa pun. Namun kawannya menjadi tidak sabar lagi. Kalau saja ia tidak sadar akan tugasnya, maka anak muda itu sudah dilemparkannya ke luar bilik. Aku tidak mendengar apa-apa. Kawannya mengangguk kecil, meskipun ia mengumpat-umpat di dalam hati. Namun ketika sekilas dipandanginya Sekar Mirah masih saja duduk tenang di tempatnya, ia menarik nafas dalam-dalam.

Dengan ragu-ragu ia memandang berkeliling. Perlahan-lahan pula ia menarik daun pintunya, kemudian melangkah masuk. Sementara itu, kawannya masih berdiri tegak di hadapan Sekar Mirah yang belum berkisar dari tempatnya. Apakah yang kau kehendaki dari aku? Aku bukan orang padukuhan ini, bukan penghuni rumah ini sehingga aku tidak akan dapat memberikan banyak keterangan yang kau ingini.

Aku ingin membawamu ke luar dari rumah ini. Ayahku ada di rumah ini dan di halaman rumah ini bertebaran para pengawal. Aku dapat masuk tanpa mereka ketahui. Aku memanjat atap rumah ini, kemudian turun dengan tali itu. Lihat, tubuhku hampir sebesar tubuh gajah. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Sekar Mirah. Anak muda itu termenung sejenak.

Sudah lama ia meninggalkan rumahnya. Sudah tentu ia tidak dapat pulang sambil membawa seorang gadis. Seandainya demikian, maka ia pasti akan segera ditangkap oleh para pengawal yang sekarang sudah menguasai hampir semua sudut-sudut Tanah Perdikan ini.

Aku punya rumah. Anak muda itu menjadi kian bingung. Ia tidak mengerti, bagaimana ia harus menjawab. Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dan aku akan kau ambil dari daerah serigala lapar dan kau masukkan ke dalam kandang harimau yang juga kelaparan? Memang tidak mungkin baginya untuk membawa gadis itu ke sarang persembunyiannya. Di sana terdapat banyak sekali laki-laki yang liar seperti dirinya sendiri.

Kehadiran Sekar Mirah di antara mereka pasti hanya akan menimbulkan keonaran saja. Karena itu, maka untuk sejenak laki-laki yang bertubuh seperti seekor badak itu berpikir sejenak. Sekali-sekali ditatapnya wajah Sekar Mirah di bawah remang-remang sorot lampu minyak yang redup.

Aku tidak tahu ke mana kau akan aku bawa. Ini bukan hal yang aneh. Aku memerlukan kau dan aku tidak mau dibingungkan oleh tempat dan segala macam. Kita harus segera keluar dari tempat ini.

Bukankah kau masih menunggu putera Ki Argajaya. Rumah ini terlampau besar untuk dihuni keluarga Ki Argajaya yang sudah terpecah-pecah itu. Mungkin rumah ini dahulu sangat baik dan bersih. Dihuni oleh beberapa orang sanak saudara dan pelayan-pelayan yang sanggup memelihara rumah ini. Sudah aku katakan tinggallah di sini. Atau, aku yang akan membawamu? Kau dapat aku jadikan saudaraku yang kedua. Aku mempunyai kakak, dan kau akan menjadi adikku.

Kalau seisi rumah ini bangun, itu bukan salahku. Selangkah ia maju menyambar lengan Sekar Mirah dan menariknya. Sekar Mirah tidak melawan.

Ia pun terseret beberapa langkah. Namun kemudian tangan anak muda itu dikibaskannya, sehingga pegangannya pun terlepas. Namun anak muda itu menjadi heran karenanya.

Ia tidak menyangka bahwa Sekar Mirah cukup kuat untuk mengibaskan tangannya, dan apalagi setelah gadis itu berdiri, matanya seakan-akan tidak berkedip lagi memandangi pakaian Sekar Mirah. Dipandanginya Sekar Mirah dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.

Ya, kenapa? Bukankah aku berpakaian biasa? Pakaian Sekar Mirah bukanlah pakaian gadis-gadis sewajarnya. Di atas Tanah Perdikan ini, hanya Pandan Wangi sajalah gadis yang mengenakan pakaian seperti yang dipakai oleh Sekar Mirah itu. Karena pakaian itu semula ditutupinya dengan kain panjang yang dipergunakannya sebagai selimut, maka anak muda itu tidak begitu memperhatikannya. Namun agaknya cara berpakaian gadis ini telah menunjukkan suatu ciri yang lain dari gadis-gadis kebanyakan.

Apakah kau tidak mau aku bawa pulang, dan aku jadikan adik laki-laki. Aku tidak peduli siapa kau dan kenapa kau berpakaian seperti seorang laki-laki. Tetapi aku tahu pasti, kau seorang gadis. Dengan demikian aku memerlukan kau. Mau tidak mau, kau harus aku bawa ke luar dari tempat ini. Aku dapat membuat kau pingsan, kemudian aku dukung kau ke luar dari dalam bilik ini lewat atap. Kalau tanganmu memegangi tubuhku, bagaimana kau dapat memanjat. Matanya menjadi nanar memperhatikan barang-barang yang ada di dalam bilik itu.

Ia ingin mendapat alat yang dapat dipakainya untuk memanjat atap. Tetapi ia tidak melihat sesuatu kecuali sebuah geledeg bambu yang tua. Jangan banyak tingkah, supaya aku tidak menjadi kasar.

Matanya seakan-akan telah menyala dan nafasnya menjadi terengah-engah. Sekar Mirah surut selangkah. Tetapi ia tidak dapat mundur lagi karena ia sudah berdiri melekat pinggir pembaringannya.

GUIDA LONDRA LONELY PLANET PDF

Buku 002 (Seri I Jilid 2)

Sidanti terdiam sejenak. Wajahnya menjadi tegang kembali. Namun sejenak kemudian ia menarik nafas. Yang penting, kita adalah putera-putera Tanah Perdikan.

ZIMBARDO EFEKT LUCYFERA PDF

Buku 102 (Seri II Jilid 2)

Tetapi kita akan menentukan hidup mati bagi Sangkal Putung! Karena itu Tohpati harus mati. Kita keroyok berdua. Kembali ke kelompokmu! Sidanti menjadi tidak senang.

Related Articles